Dunia Wisata dan Kuliner

Ceritaku yang Berwisata di Potongan Surga Dunia, Desa Wae Rebo

Written on August 31, 2016   By   in Wisata

Ceritaku yang Berwisata di Wae Rebo – Keindahan pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur benar-benar gampang memikat siapa saja. Aku bertiga dgn sahabat sekantor yg tergila-gila dgn traveling memutuskan utk berangkat ke sana. Terlebih, Flores sedang naik daun, seiring dgn semakin mudahnya akses ke sana, maka para traveler pun semakin gencar mengunggah foto-foto jelita ke fasilitas sosial.

ceritaku yang berwisata di wae rebo

 

Sebenarnya tidak sedikit destinasi yg teramat menantang di Flores. Sejak Mulai Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Danau Kelimutu, Bajawa, sampai desa tradisi di atas gunung di Manggarai, Wae Rebo. Nama terakhirlah yg menurut kami jadi destinasi paling berkesan & paling susah diraih. Tepat pepatah, surga tak diciptakan buat diraih dgn enteng.

 

Di desa itu terdapat tujuh hunian kebiasaan berbentuk kerucut. Mbaru Niang namanya. Desa itu sebenarnya terbentuk dikarenakan para tetua rutinitas sedang menghindari serbuan tentara Jepang kepada era penjajahan dulu. Mereka membangun ruang tinggal & menetap bersama tujuh bangunan berbentuk kerucut berdiameter 11–15 meter bersama penghangat alami di dalamnya.

 

Masih banyak kiat menuju ke sana. Mula-mula, naik angkutan umum dari Labuan Bajo ke Ruteng & dilanjutkan dgn angkutan umum semacam truk, tapi dgn kursi di sektor belakang. Tetapi, seandainya malas repot, mampu memanfaatkan trick kami. Adalah, memakai jasa travel yg tidak sedikit sedia di Labuan Bajo.

 

Tatkala tujuh jam perjalanan dari Labuan Bajo memakai mobil, tiga jam mula-mula serupa bersama rute dari Surabaya ke Gunung Bromo. Menanjak plus bumpy. Empat jam sisanya, lebih parah. Bersama rute yg lebih sempit cuma lumayan utk satu mobil plus alang-alang yg menjorok ke jalan.

 

Oya, di sini kita mesti siap menjadi fakir seluler. Cuma salah satu provider yg sanggup menerima sinyal. Itu pula tersendat-sendat. Menjadi, apabila mau mengirim pesan sebelum sinyal hilang, jalankan di desa terakhir sebelum ke Wae Rebo. Ialah, Desa Dintor.

 

Turun dari mobil, bukan berarti telah hingga. Masihlah jauh. Kita mesti tracking tatkala kurang lebih dua jam dari pos mula-mula. Lamanya tracking bergantung keadaan fisik kita. Sesudah berlangsung kaki mendaki bebukitan, sampailah kami ke desa kebiasaan Wae Rebo. Terbayar lunaslah seluruhnya perjuangan menuju ke sana. Indahnya…. !

 

Seperti tidak sedikit orang bilang, Desa Wae Rebo ibarat potongan surga yg terjatuh ke Bumi. sangat cantik. Tak salah Wae Rebo dinobatkan jadi web warisan budaya UNESCO terhadap 2012 dulu. Penduduknya pula ramah, tersenyum, & menyapa kita duluan.

 

Dulu, ngapain kita di sana? Ada dua opsi. Serentak turun ke desa atau menginap dengan tamu lainnya. Janganlah khawatir soal lokasi menginap. Salah satu bangunan benar-benar dikhususkan utk para tamu yg mau menginap. Dikarenakan mau merasakan pengalaman menginap di salah satu bangunan kebiasaan tersebut, kami memutuskan menginap supaya mampu merasakan keramahtamahan masyarakat Wae Rebo. Itu yakni pengalaman paling baik aku dgn para rekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *