Dunia Wisata dan Kuliner

Sejarah perkembangan industri otomotif di Indonesia

Written on May 5, 2017   By   in otomotif

industri otomotif

Presiden Jokowi mencanangkan kembali kemauan Pemerintah untuk jadikan otomotif sebagai industri andalan Indonesia, pada peresmian pabrik Mitsubishi di Cikarang sebagian minggu lalau. Dari materi yang didapatkan dari Pusat Data Usaha Indonesia, sebenarnya potensi usaha di Indonesia, bisa menumbuhkan optimisme dalam pembangunan industri otomotif. Serta lagi, hal itu searah dengan harapan Wapres Juiceuf Kalla, saat resmikan gelaran IIMS April 2017 di Kemayoran.

Sejatinya dinamika empiris historis industri otomotif Indonesia telah diawali nyaris seabad waktu lalu pada 1927. General Motors membangun pabrik perakitan di Tanjung Priok pada 1927, yang ke-2 di Asia sesudah Yokohama Jepang serta General Motor pilih Jakarta daripada Singapura karna insentif kebijakan.

Seperempat era lalu pada 1953, DR Hasyim Ning membangun pabrik perakitan ke-2 PT Indonesia Service Company serta jadi distributor pelbagai merk mobil dari mulai Ford serta Fiat, hingga di kenal sebagai Raja Mobil Indonesia yang selalu kuasai market share domestik sampai awal 1970an. Nah pada th. 1969, William Soeryadjaja pendiri Astra (1957) beli ex pabrik General Motors 1927 dari status BUMN PN Style Motor jadi sisi dari imperium otomotif Astra yang menukar Hasyim Ning sebagai Raja Mobil Indonesia sampai 1991.

Tetapi dengan cara tragis keluarga ini kehilangan semua sahamnya karna krisis Bank Summa, mengakibatkan keluarga Soeryadjaya kehilangan kepemilikan atas Astra yang sesudah krisis moneter 1998, jadi perusahaan terbuka yang mayoritasnya ditangan grup Jardine Hongkong.

Mendekati terbentuknya WTO, pada tahun1996 kebijakan Mobil Nasional Presiden Soeharto sebenarnya adalah kebijakan pas. Tetapi aplikasinya berbasiskan nepotisme serta timingnya berbenturan dengan krismon 1997-1998 hingga berbuntut kegagalan keseluruhan. Proteksi yg tidak efektif serta tidak berhasil mengikuti Korea serta mengulangi kegagalan Proton Malaysia.

Di semua dunia industri otomotif alami konsolidasi hingga AS cuma miliki dua brand “nasional” General Motors serta Ford, tengah Chrysler telah berpatungan dengan Fiat yang masih tetap survive mewakili Italia dalam produsen mobil global. Jerman miliki tiga brand Mercedes BMW serta Volkswagen.

BUMN Prancis miliki Citroen Renault serta swasta miliki Peugeot. Cuma Jepang yang masih tetap bertahan dengan delapan brand seperti Toyota, Nissan (mitra dengan Renault), Honda, Mazda, Mitsubishi, Isuzu, Suzuki, Subaru. Di luar 16 merk global itu, jadi cuma Korea yang dapat menembus industri mobil global dengan merk Hyundai serta KIA (telah dimerger jadi satu).

Agung Automall sebagai salah satu dealer Toyota Pekanbaru tentu sangat menyambut baik dengan kehadiran industri otomotif, terutama untuk merk Toyota. Karena memang sangat diminati masyarakat

Mobnas Indonesia menginginkan mengikuti jejak Korea bermitra dengan KIA serta Malaysia yang meluncurkan Proton berbasiskan Mitsubishi. Sesaat Tiongkok baru agresif meningkatkan merk lokalnya, malah sesudah liberalisasi masuknya semuanya produsen global bangun pabrik serta merk global di tanah Tiongkok.

Dalam siklus seabad industri otomotif Indonesia, berlangsung kekhasan sejarah kalau General Motors berpatungan dengan SAIC Tiongkok untuk buka pabrik Wuling di Bekasi. Hal semacam ini seolah kembali mengingatkan kita pada fenomena 1927, saat General Motors pilih Tanjung Priok sebagai tempat perakitan mobil General Motors ke-2 di Asia sesudah Jepang.

Bila pemerintah mencanangkan hal diatas, jadi Indonesia mesti berhasil berintegrasi dengan arus besar global suplai chain industri otomotif. Bila semuanya pihak terkai ingin bersungguh-sungguh belajar dari kisah jatuh bangun imperium otomotif Indonesia karna ayunan pendulum kebijakan, Indonesia bakal merayakan seabad industri otomotif Indonesia pada 2027 sebagai andalan ekonomi Nasional, dengan atau tanpa ada brand lokal, namun dapat jadi sisi global suplai chain otomotif global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *