Dunia Wisata dan Kuliner

7 Tempat Wisata di Indonesia yang Terancam Rusak

Written on August 20, 2016   By   in Wisata

Indonesia merupakan Negara yang terdiri asal 5 pulau besar serta diapit dengan dua lautan. Jangan tanya estetika alamnya. Berbagai wisata yang kamu inginkan terdapat pada negara ini. Mulai dari gunung, hutan, danau, pantai, laut, hingga wisata tengah kota. Nggak heran kalau Indonesia jadi keliru satu destinasi global untuk berwisata.

Semakin poly kawasan wisata yg dibuka, meningkat jua peminatnya. Poly yg berbondong-bondong ke daerah wisata demi menerima gelar anak kekinian dan pernyataan gue udah pernah ke sana loh . Akibatnya kentara, beberapa destinasi justru terancam atau bahkan rusak sebab terlalu poly yg menjamah. Nggak cuma itu, eksploitasi yg berlebihan pula jadi penyebabnya. Mereka seakan tidak belajar berasal beberapa kejadian sebelumnya. Hal inilah yg membuat beberapa daerah wisata tinggal nama. Karena eksistensi diri di atas segalanya dan mengabaikan sekitarnya.

Tujuh destinasi wisata ini terancam rusak karena ulah manusia. Tentu anugrah asal yang Maha Kuasa ini tentu nggak boleh engkau sia-siakan dong ya. Yuk kita jaga beserta!

1.Hamparan bebatuan hijau pada pantai Penggajawa, jangan sampai habis karena jadi ladang perjuangan

Bagi engkau yang hobi berwisata ke wilayah bagian timur Indonesia, tentu pernah menginjakkan kaki di tanah Flores, NTT. Berbagai daerah wisata emang jadi daya tarik di provinsi ini. Serta pantai Penggajawa tentu masuk dalam list destinasi engkau . Jika umumnya pantai terkenal menggunakan pasir putih, maka pantai ini terkenal menggunakan hamparan batu-batu hijau dan birunya yang menawan. Hal ini juga dijadikan masyarakat setempat menjadi asal mata pencaharian. Tapi sayang, Jika pendayagunaan destinasi ini terus-terusan terjadi dan dilakukan besar -besaran demi kepentingan komersil, mampu aja pantai Penggajawa kehilangan daya tariknya. Jikalau batunya yang indah-cantik udah diambilin, pantai Penggawa bakal jadi pantai berbatu biasa. Jangan hingga deh!

2.Lagi-lagi sampah menjadi asal problem pada Danau Ranau. Selain ngerusak ekosistem, sampah jua merusak keindahan alam

Danau terbesar kedua pada pulau Sumatera ini emang jadi galat satu destinasi wisata, terutama liburan keluarga. Memandangi luasnya danau dengan pulau Marisas di tengahnya emang pas banget untuk santai-santai famili. Engkau pula bisa mandi air panas menggunakan campuran belerang. Sayangnya, pencerahan wisatawan disini masih kurang. Kalau buang sampah ya jangan pada danau dong. Anak mungil aja udah tau buang sampah di tempatnya. Banyaknya sampah pada lebih kurang danau ini sempat mengkhawatirkan Mengganggu ekosistem yang ada pada danau. Ingetin temen engkau yang mau main ke sana ya! Masa mau ngerusak destinasi seindah ini?

3.Bila mau dibilang kekinian sih boleh, jangan ikut menghambat anugrah dewa bernama Raja Ampat!

Sepertinya Raja Ampat sebagai galat satu destinasi yg paling poly diminati setahun terakhir. Kepulauan ini mempunyai keunggulan dalam wisata bahari. Lautnya yang berwarna hijau toska menggunakan keindahan alam bawah laut terbukti bisa menjadikan destinasi ini sebagai salah satu surga global. Tetapi lagi-lagi sikap nggak bertanggung jawab dari warga lokal juga wisatawan menyakiti ekosistem bahari. Destinasi baru ini telah mengalami kerusakan karang di beberapa lokasi. Peristiwa ini harusnya jadi pengingat supaya menjadi insan yg bertanggungjawab. Bukan yg hanya bisa merusak.

4.Keliru satu warisan terbaik global yang juga terancam, alam bawah bahari Bunaken yang memesona

Siapa tidak kenal Wisata bahari Bunaken? Wisata bawah bahari ini udah sejak puluhan tahun kemudian sebagai destinasi dunia. Keelokan ekosistem bawah lautnya benar-benar memesona. Mungkin banyk diantara kamu ada yang berharap bisa menikmati keindahan bahari ini secara eksklusif. Akan tetapi sayang, lagi-lagi sampah mengancam keberlangsungan wisata ini. Sampah plastik yang terbawa arus dari teluk Manado sebagai penyebab utamanya. Nggak pengen ‘kan beberapa tahun lagi wisata bahari ini udah nggak terdapat dan kamu nggak sempat menikmatinya? Makanya, jangan butir sampah sembarang dimanapun engkau berada. Sebab kamu nggak memahami sampah-sampah itu akan berakhir dimana.

5.Bila habitat ini masih ditelanjangi, beberapa tahun lalu mungkin beberapa satwa tidak akan mampu kamu temui lagi

kawasan Wisata Alam Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara, provinsi Bengkulu juga jadi keliru satu tempat wisata yang terancam rusak. Hutan lebih kurang habitat bagi satwa liar ini terus dirambah. Penebangan kayu besar -besaran membentuk daerah konservasi ini benar-sahih terancam. Padahal daerah seluas 7000 hektar ini jadi benteng terakhir bagi satwa langka Bengkulu, seperti Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera yg populasinya makin menyusut. Duh duka banget

6.Kawasan bersejarah di Labuan Bajo, Gua Batu Cermin yang pula nggak tanggal asal tangan wisatawan jahil

Gua Batu Cermin, merupakan keliru satu destinasi eksotis yg ada di desa Waesambi Manggari Barat, Labuan Bajo, Flores. Di sini engkau nggak cuma bisa liat stalaktit dan stalagmit, batu ibu maria serta fosil kura-kura masa lalu jua terdapat. Nggak cuma itu, kamu pula mampu lihat goresan-goresan tangan jahil. Loh kok bisa? Ya, karena adanya wisatawan nggak bertanggung jawab yang pengen namanya dikenang pula kayak tempat bersejarah ini. Kenal jua nggak. Dan lagi, wisata ini seakan tidak terurus. Tanaman yg tumbuh liar di lebih kurang gua, bangunan yg nggak terawat bikin estetika gua Batu Cermin terkikis.

7.Terumbu karang perairan Bangka Belitung yg nggak kalah latif, akan tetapi mampu rusak sang ulah wisatawan

Wisata Bangka Belitung mulai digandrungi semenjak novel Andrea Hirata, Laskar Pelangi menjadi novel terlaris pada Indonesia tahun 2013 lalu. Cerita kehidupan pada tanah Bangka Belitung yang mempesona membentuk rakyat tertarik buat mengunjungi kawasan ini. Estetika pantai-pantai biru di Bangka Belitung dengan pasir putihnya, seakan menyihir para wisatawan buat berkunjung. Namun dibalik estetika itu, ada kenyataan yg menyakitkan. Bangka Belitung dikenal menjadi pulau timah. Kapal isap dan tambang inkonvensional pengeruk timah di perairan Bangka Belitung mengakibatkan terumbu karang di wilayah itu rusak hingga 5o %. Padahal butuh waktu 50 tahun buat mengembangbiakkan ekosistem bahari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *